Masehi, hanya berselang sekitar
20 tahun dari wafatnya
Rasulullah SAW, Khalifah Utsman
ibn Affan RA mengirim delegasi
ke Cina untuk memperkenalkan
Daulah Islam yang belum lama
berdiri. Dalam perjalanan yang
memakan waktu empat tahun
ini, para utusan Utsman ternyata
sempat singgah di Kepulauan
Nusantara. Beberapa tahun
kemudian, tepatnya tahun 674 M,
Dinasti Umayyah telah
mendirikan pangkalan dagang di
pantai barat Sumatera. Inilah
perkenalan pertama penduduk
Indonesia dengan Islam. Sejak itu
para pelaut dan pedagang
Muslim terus berdatangan, abad
demi abad. Mereka membeli hasil
bumi dari negeri nan hijau ini
sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi
mulai memeluk Islam meskipun
belum secara besar-besaran.
Aceh, daerah paling barat dari
Kepulauan Nusantara, adalah
yang pertama sekali menerima
agama Islam. Bahkan di Acehlah
kerajaan Islam pertama di
Indonesia berdiri, yakni Pasai.
Berita dari Marcopolo
menyebutkan bahwa pada saat
persinggahannya di Pasai tahun
692 H / 1292 M, telah banyak
orang Arab yang menyebarkan
Islam. Begitu pula berita dari
Ibnu Battuthah, pengembara
Muslim dari Maghribi., yang
ketika singgah di Aceh tahun
746 H / 1345 M menuliskan
bahwa di Aceh telah tersebar
mazhab Syafi'i. Adapun
peninggalan tertua dari kaum
Muslimin yang ditemukan di
Indonesia terdapat di Gresik,
Jawa Timur. Berupa komplek
makam Islam, yang salah satu
diantaranya adalah makam
seorang Muslimah bernama
Fathimah binti Maimun. Pada
makamnya tertulis angka tahun
475 H / 1082 M, yaitu pada
jaman Kerajaan Singasari.
Diperkirakan makam-makam ini
bukan dari penduduk asli,
melainkan makam para
pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14
M, belum ada pengislaman
penduduk pribumi Nusantara
secara besar-besaran. Baru pada
abad ke-9 H / 14 M, penduduk
pribumi memeluk Islam secara
massal. Para pakar sejarah
berpendapat bahwa masuk
Islamnya penduduk Nusantara
secara besar-besaran pada abad
tersebut disebabkan saat itu
kaum Muslimin sudah memiliki
kekuatan politik yang berarti.
Yaitu ditandai dengan berdirinya
beberapa kerajaan bercorak
Islam seperti Kerajaan Aceh
Darussalam, Malaka, Demak,
Cirebon, serta Ternate. Para
penguasa kerajaan-kerajaan ini
berdarah campuran, keturunan
raja-raja pribumi pra Islam dan
para pendatang Arab. Pesatnya
Islamisasi pada abad ke-14 dan
15 M antara lain juga disebabkan
oleh surutnya kekuatan dan
pengaruh kerajaan-kerajaan
Hindu / Budha di Nusantara
seperti Majapahit, Sriwijaya dan
Sunda. Thomas Arnold dalam The
Preaching of Islam mengatakan
bahwa kedatangan Islam
bukanlah sebagai penakluk
seperti halnya bangsa Portugis
dan Spanyol. Islam datang ke
Asia Tenggara dengan jalan
damai, tidak dengan pedang,
tidak dengan merebut
kekuasaan politik. Islam masuk
ke Nusantara dengan cara yang
benar-benar menunjukkannya
sebagai rahmatan lil'alamin.
Dengan masuk Islamnya
penduduk pribumi Nusantara
dan terbentuknya pemerintahan-
pemerintahan Islam di berbagai
daerah kepulauan ini,
perdagangan dengan kaum
Muslimin dari pusat dunia Islam
menjadi semakin erat. Orang
Arab yang bermigrasi ke
Nusantara juga semakin banyak.
Yang terbesar diantaranya
adalah berasal dari Hadramaut,
Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut,
migrasi ini bahkan dikatakan
sebagai yang terbesar sepanjang
sejarah Hadramaut. Namun
setelah bangsa-bangsa Eropa
Nasrani berdatangan dan
dengan rakusnya menguasai
daerah-demi daerah di
Nusantara, hubungan dengan
pusat dunia Islam seakan
terputus. Terutama di abad ke 17
dan 18 Masehi. Penyebabnya,
selain karena kaum Muslimin
Nusantara disibukkan oleh
perlawanan menentang
penjajahan, juga karena
berbagai peraturan yang
diciptakan oleh kaum kolonialis.
Setiap kali para penjajah -
terutama Belanda -
menundukkan kerajaan Islam di
Nusantara, mereka pasti
menyodorkan perjanjian yang
isinya melarang kerajaan
tersebut berhubungan dagang
dengan dunia luar kecuali melalui
mereka. Maka terputuslah
hubungan ummat Islam
Nusantara dengan ummat Islam
dari bangsa-bangsa lain yang
telah terjalin beratus-ratus tahun.
Keinginan kaum kolonialis untuk
menjauhkan ummat Islam
Nusantara dengan akarnya, juga
terlihat dari kebijakan mereka
yang mempersulit pembauran
antara orang Arab dengan
pribumi.
Semenjak awal datangnya
bangsa Eropa pada akhir abad
ke-15 Masehi ke kepulauan
subur makmur ini, memang
sudah terlihat sifat rakus mereka
untuk menguasai. Apalagi
mereka mendapati kenyataan
bahwa penduduk kepulauan ini
telah memeluk Islam, agama
seteru mereka, sehingga
semangat Perang Salib pun selalu
dibawa-bawa setiap kali mereka
menundukkan suatu daerah.
Dalam memerangi Islam mereka
bekerja sama dengan kerajaan-
kerajaan pribumi yang masih
menganut Hindu / Budha. Satu
contoh, untuk memutuskan jalur
pelayaran kaum Muslimin, maka
setelah menguasai Malaka pada
tahun 1511, Portugis menjalin
kerjasama dengan Kerajaan
Sunda Pajajaran untuk
membangun sebuah pangkalan
di Sunda Kelapa. Namun maksud
Portugis ini gagal total setelah
pasukan gabungan Islam dari
sepanjang pesisir utara Pulau
Jawa bahu membahu
menggempur mereka pada
tahun 1527 M. Pertempuran
besar yang bersejarah ini
dipimpin oleh seorang putra
Aceh berdarah Arab Gujarat,
yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang
lebih terkenal dengan gelarnya,
Fathahillah. Sebelum menjadi
orang penting di tiga kerajaan
Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon
dan Banten, Fathahillah sempat
berguru di Makkah. Bahkan ikut
mempertahankan Makkah dari
serbuan Turki Utsmani.
Jangan lupa di share dan like *SEJARAH ISLAM DI INDONESIA* bro / sist
dan sempatkan untuk membaca yang lainnya broth..
Save url to wapmaster
dan sempatkan untuk membaca yang lainnya broth..
Save url to wapmaster
masih 0 komentar untuk *SEJARAH ISLAM DI INDONESIA*
Posting Komentar