Dari akallah kecerdasan manusia
bisa bisa bermanfaat bagi
dirinya dan masyarakat. Namun,
belakangan ini, kita melihat
dalam pemberitaan bahwa ada
beberapa tokoh yang kelihatan
cerdas, tapi diduga berbuat
kurang terpuji di mata publik,
misalnya dari cara bicara yang
sangat emosial dan kurang
santun, berbuat asusila,
manipulasi wewenang, dan juga
paling terlihat adalah
keterlibatan sejumlah tokoh dan
pejabat dalam kasus korupsi.
Mengapa orang-orang yang
dinilai cerdas ini justru berbuat
tidak terpuji?
Lazimnya, intelektual dan
kecerdasan seseorang selalu
dinilai dari IQ [Inteligent
Quotient]. Dalam keseharian,
kita terkadang mendengar
komentar? “Eh, Si A pintar ya?
IQ-nya pasti tinggi. Si B bodoh,
kayaknya IQ-nya rendah, deh.. ”.
Demikianlah gambaran orang
pada umumnya melihat nilai
kecerdasan seseorang. Padahal
ada dua lagi kecerdasan yang
perlu diketahui, yakni EQ
[Emotional Qoutient] atau
kecerdasan emosial dan SQ
[Spirtual Qoutient] kecerdasan
spiritual. EQ lebih menekankan
pada keterampilan mengelola
emosial. Sementara SQ
penekannya pada perpaduan
keterampilan IQ dan EQ. Nah,
jika kita menyaksikan beberapa
orang yang terlihat cerdas tapi
tidak bisa mengendalikan
emosinya dan juga berbuat
tidak terpuji, Itu berarti orang
tersebut kurang bisa mengelola
SQ-nya. Oleh karena itulah,
seyogyanya kita memperhatikan
pentingnya SQ dalam kehidupan
sehari-hari. Apalagi unsur-unsur
dan nilai kecerdasan dalam SQ
banyak terdapat dalam ajaran
Islam.
Dr. Muhammad Thohir, SpKJ
dalam bukunya berjudul 10
Langkah Menuju Jiwa Sehat
menyebutkan pentingnya SQ
dalam diri manusia. Menurutnya,
kecerdasan spiritual adalah
fondasi yang diperlukan untuk
mengfungsikan kecerdasan
intelektual dan emosional secara
efektif. Dengan memfungsikan
SQ, niscaya manusia bisa
berhasil menemukan
kebermaknaan dalam hidup
serta menemukan etika dan
morak untuk membimbing jalan
kehidupan. Kecerdasan spiritual
juga dimanfaatkan untuk
mendidik hati dan budi pekerti.
Lantas, bagaimana caranya
mendapatkan hasil tersebut
yang paling ideal menurut
Islam?
Dalam Islam, nilai spiritualitas
seseorang dinilai dari caranya
dalam memahami hidup melalui
perenungan dan zikir tak henti-
henti kepada Allah swt. Jika
dikaitkan dengan pemanfaatan
SQ, memang seharusnya zikir
menjadi aktivitas yang tepat
dalam berproses mendapatkan
SQ.
Pengertian zikir bermacam-
macam. Banyak ulama
memberikan definisi zikir.
Meskipun demikian, makna zikir
itu sendiri tetap punya fungsi
dan tujuan yang sama, yakni,
membangun kedekatan dengan
Allah agar manusia terhindar
dari perbuatan tercela. Tapi dari
asal usul katanya yang
ditafsirkan dari al-Qur ’an, zikir
bisa berarti mengucapkan
dengan lidah/menyebut
sesuatu. Zikir juga punya
pengertian mengingat dan
menghafal. Secara umum, zikir
juga berarti memelihara
sesuatu.
Zikir pun bisa dikategorikan
pengertiannya secara sempit
dan luas. Secara sempit zikir
berarti dengan lidah, yakni
menyebut nama Allah dengan
lidah atau ucapan, seperti
mengucapkan tasbih, tahmid,
tahlil, takbir, hauqalah, dll.
Sedangkan zikir secara luas,
yakni kesadaran tentang
kehadiran Allah, di mana dan
kapan saja, serta kesadaran
akan kebersamaan-Nya dengan
makhluk; kebersamaan dalam
arti pengetahuan-Nya terhadap
apapun di alam raya ini. Serta
bantuan dan pembelaan-nya
terhadap hamba-hamba-Nya
yang taat. [M. Quraish Shihab,
Wawasan al-Qur ’an tentang Zikir
& Doa; Lentera Hati 2006].
Dari pengertian zikir tersebut,
jelas bahwa kapasitas SQ
seorang Muslim tergantung
pada pemahaman dan
pengamalan zikir itu sendiri.
Apalagi dalam konteks zikir
lebih luas, sangatlah
berkesinambungan dengan
keutamaan SQ seseorang dalam
berbagai tindakan, sikap, dan
perbuatan di berbagai aspek
kehidupan.
Dengan berzikir secara benar,
kita sebenarnya menjalani
kehidupan cara Rasulullah Saw.
Di mana pun dan kapan pun,
beliau selalu berzikir kepada
Allah untuk mempertahankan
kesimbangan IQ dan EQ-nya.
Bukankah Allah berfirman;
“ Karena itu ingatlah kamu
kepada-Ku, niscaya Aku ingat
[pula] kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan
janganlah kamu mengingkari
[nikmat]-Ku ” [QS al-Baqarah [2]:
152].
Semoga dengan berzikir, kita
selalu menjadi Muslim yang
cerdas sekaligus ber-akhlakul
karimah. Âmîn.
Jangan lupa di share dan like PENGERTIAN ZIKIR bro / sist
dan sempatkan untuk membaca yang lainnya broth..
Save url to wapmaster
dan sempatkan untuk membaca yang lainnya broth..
Save url to wapmaster
masih 0 komentar untuk PENGERTIAN ZIKIR
Posting Komentar